Sabtu, 03 November 2012
Sabtu, 18 Agustus 2012
PEMUDA 21 TAHUN BANGUN 16 GEREJA DI TANAH AIR
![]() |
| Gereja Katolik stasi St. Agatha, Pulogodang, Tapanuli Tengah sebelum dan sesudah dibangun |
Albertus
Gregory Tan (21), seorang alumnus Administrasi Publik Universitas Indonesia ini
telah membuktikan diri menjadi motor penggerak yang membantu belasan gereja. Dalam
kurun 1,5 tahun ia berhasil menggalang dana sebesar Rp 1,7 Miliar dan membangun
16 gereja yang tak layak untuk ibadah menjadi tempat yang nyaman bagi umat
untuk berdoa.
Bukan hal yang mudah bagi pemuda dua puluh satu tahun ini. Caci maki dan ancaman dilaporkan ke polisi bukan menjadi halangan, Berbekal kejujuran dan kredibilitas, ia berhasil meyakinkan para donatur untuk membantu pembangunan geraja.
Bukan hal yang mudah bagi pemuda dua puluh satu tahun ini. Caci maki dan ancaman dilaporkan ke polisi bukan menjadi halangan, Berbekal kejujuran dan kredibilitas, ia berhasil meyakinkan para donatur untuk membantu pembangunan geraja.
Karena keprihatinan sebagai anak muda pada tahun 2010 “Saat itu saya mengunjungi gereja stasi di Keuskupan Sibolga, kondisinya sangat memprihatinkan, hancur. Dinding gereja dari tambalan-tambalan papan, tak ada atapnya, lantai tanah, dan tak ada toilet." Albertuspun bersemangat untuk menggalang dana membantu gereja-gereja lain yang memiliki nasib sama.
Prinsipnya
sederhana, bila bukan dia, siapa yang mau membantu mengingat untuk menjangkau
gereja-gereja tersebut saja susah. Awalnya ia memposting bangunan fisik gereja
yang akan dibantu. Gereja pertama yang dibantu yaitu Gereja Santa Maria dari
Gunung Karmel di Tigalingga, Dairi, Sumatera Utara, Keuskupan Medan.
Setelah mendapat informasi bahwa suatu gereja membutuhkan bantuan, ia kemudian mencari kontak di keuskupan setempat dan bertanya langsung apakah benar gereja tersebut layak dibantu. Kemudian kondisi gereja di posting melalui FB Gereja Katolik dan blog yang beralamat di www.ppgk.blogspot.com. Melalui FB Gereja katolik dan blog tersebut, bisa dilihat gereja-gereja yang sudah dibangun beserta pelaporan keuangannya.
Halangan yang ia jumpai menurutnya tak seberapa dibandingkan bertemu dengan para umat di gereja yang dibantu. Saya bahagia mereka sudah nyaman ketika misa," ujarnya.(tribunmanado.co.id/)
Setelah mendapat informasi bahwa suatu gereja membutuhkan bantuan, ia kemudian mencari kontak di keuskupan setempat dan bertanya langsung apakah benar gereja tersebut layak dibantu. Kemudian kondisi gereja di posting melalui FB Gereja Katolik dan blog yang beralamat di www.ppgk.blogspot.com. Melalui FB Gereja katolik dan blog tersebut, bisa dilihat gereja-gereja yang sudah dibangun beserta pelaporan keuangannya.
Halangan yang ia jumpai menurutnya tak seberapa dibandingkan bertemu dengan para umat di gereja yang dibantu. Saya bahagia mereka sudah nyaman ketika misa," ujarnya.(tribunmanado.co.id/)
Selasa, 14 Agustus 2012
ARTI PEMINDAHAN TALI TOGA SAAT WISUDA
Pemindahan tali toga wisuda. Ketika wisuda setiap mahasiswa pasti memakai toga.
Tetapi anda semua pada tau gak mengapa pada saat wisuda itu tali toga
disampirkan di kepala sebelah kiri, lalu kemudian oleh rektor dipindah ke
bagian kanan. Pasti sebagian besar dari kalian belum tau artinya apa.
Toga merupakan simbol yang menyatakan bahwa mahasiswa telah lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat. Tali toga yang awalnya disampirkan di kepala sebelah kiri lalu kemudian oleh rektor dipindah ke bagian kanan.
Tali toga di sebelah kiri maksudnya adalah selama menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakan adalah otak kiri. Dimana otak kiri itu hanya berhubungan dengan bahasa atau hafalan. Dipindahkannya tali toga dari kiri ke kanan itu dimaksudkan agar setelah lulus para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri, tetapi harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Dimana otak kanan ini berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas, dan inovasi seseorang. Hal ini berhubungan dengan jenis pekerjaan yang harus dipilih para lulusan.
Diharapkan setelah lulus, mereka tidak hanya menggunakan otak kiri yang "hanya mengandalkan bekerja pada orang lain" namun "harus mampu berpikir kreatif, imajinatif dan inovatif" yang menggunakan otak kanan dalam menciptakan pekerjaan bagi diri mereka sendiri. Jadi,ini dimaksudkan agar para lulusan dapat berwirausaha secara baik.
Dengan demikian, marilah kita para sarjana berusaha membangun sistem wirausaha yang kuat untuk menguatkan struktur perekonomian bangsa agar lebih merata, serta mengurangi pengangguran yang merajalela di negeri kita tercinta ini.http://anehdidunia.blogspot.com
Toga merupakan simbol yang menyatakan bahwa mahasiswa telah lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat. Tali toga yang awalnya disampirkan di kepala sebelah kiri lalu kemudian oleh rektor dipindah ke bagian kanan.
Tali toga di sebelah kiri maksudnya adalah selama menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakan adalah otak kiri. Dimana otak kiri itu hanya berhubungan dengan bahasa atau hafalan. Dipindahkannya tali toga dari kiri ke kanan itu dimaksudkan agar setelah lulus para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri, tetapi harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Dimana otak kanan ini berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas, dan inovasi seseorang. Hal ini berhubungan dengan jenis pekerjaan yang harus dipilih para lulusan.
Diharapkan setelah lulus, mereka tidak hanya menggunakan otak kiri yang "hanya mengandalkan bekerja pada orang lain" namun "harus mampu berpikir kreatif, imajinatif dan inovatif" yang menggunakan otak kanan dalam menciptakan pekerjaan bagi diri mereka sendiri. Jadi,ini dimaksudkan agar para lulusan dapat berwirausaha secara baik.
Dengan demikian, marilah kita para sarjana berusaha membangun sistem wirausaha yang kuat untuk menguatkan struktur perekonomian bangsa agar lebih merata, serta mengurangi pengangguran yang merajalela di negeri kita tercinta ini.http://anehdidunia.blogspot.com
Selasa, 31 Juli 2012
PESTA PELINDUNG PAROKI ST. IGNATIUS MANADO 2012
| Penyerahan trophy bergilir dari ketua dewan pastoral kepada ketua panitia pelaksana. |
| salah satu peserta lomba baca Kitab Suci dan renungan |
| juri dari lomba baca Kitab Suci dan renungan |
| peserta lomba dari wilayah rohani Stela Maris sedang mendaraskan Masmur |
| salah satu peserta lomba paduan suara |
| juara umum lomba dari wilayah rohani St. Aloysius Gonsaga |
PANITIA PESTA PELINDUNG PAROKI ST. IGNATIUS 2012
Mudika paroki St. Ignatius Manado mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman mudika yang telah membantu dalam mensukseskan acara pesta pelindung paroki St. Ignatius tahun 2012
Jumat, 08 Juni 2012
SOEGIJA
Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.
Film ini dimulai dengan goresan pena seorang Romo (Nirwan Dewanto) di atas kertas, yang sekaligus menjadi curahan hatinya. Ia sedang di tengah perang kala itu, ketika para penduduk pribumi harus berlutut dan menunduk di bawah makian serta todongan senjata Belanda.
Di masa serba tertekan itu, sang Romo mendapat kehormatan menjadi pribumi pertama yang dilantik sebagai Uskup Danaba. Ia pun lebih dikenal dengan sebutan Mgr. Alb. Soegijapranata SJ.
Penjajah datang dan pergi. Jepang masuk Indonesia tahun 1942, Belanda takluk dan harus rela dilucuti senjatanya. Mereka ingin menduduki gereja sebagai markas, namun dengan tegas Soegija menolak.
“Penggal dulu kepala saya,” ujarnya singkat.
Ia memang tidak terjun langsung untuk berperang, namun di setiap masa andilnya selalu tampak. Saat penduduk butuh tempat bernaung karena kondisi jalanan chaos, Soegija membuka lebar-lebar pintu gereja untuk menampung mereka. Ia memerintahkan penyaluran makanan lebih dulu untuk rakyat yang kelaparan, baru untuk para imam.
Saat Hiroshima – Nagasaki di-bom, Soegija berdiplomasi dengan Vatikan sehingga negara itu menjadi negara Barat pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia.
Soegija memang terkenal dengan silent diplomacy-nya. Tanpa harus menggunakan kekerasan dan senjata, iman dan semangat kemanusiaannya dapat menjadi panutan yang tak lekang waktu. Berkat kegigihannya itu, Seogija menjadi uskup pribumi pertama yang mendapat gelar pahlawan nasional dari Soekarno.
Film yang disutradara Garin Nugroho dibuat melalui riset panjang ini bukan film misionaris agama Katolik seperti yang banyak diperdebatkan. Tokohnya juga tidak melulu Soegija. Film ini menampilkan sisi humanis yang masih ada dalam sebuah perang.
Mariyem (Annisa Hertami) yang terpisah dari kakaknya Maryono (Abe) akibat perang, kembali dipertemukan dalam kondisi berbeda. Ling Ling (Andrea Reva) seorang bocah Tionghoa juga terpisah dari mamanya (Olga Lydia), kembali bertemu dalam sebuah momen di gereja. Tokoh menggelitik pun ditampilkan, seorang bocah yang hanya bisa mengeja kata ‘merdeka’ tapi punya semangat juang dan selalu menjadi garda terdepan pasukan pemuda.
Rasa kemanusiaan juga dimiliki para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), pemimpin tentara Jepang, tak pernah tega pada anak-anak karena ingat anaknya di rumah. Robert (Wouter Zweers), tentara Belanda yang sangat bernafsu menjadi mesin perang paling hebat, perasaannya luluh saat menemukan bayi di medan perang. Hendrick (Wouter Braaf), jurnalis asal Belanda, pun selalu memotret ekspresi-ekspresi manusiawi dan nasionalisme Indonesia. Ia menemukan cintanya, namun tak mampu bersatu karena perang.
“Perjuangan sudah selesai, sekarang tinggal bagaimana menata negara dan melayani masyarakat. Kalau mau jadi politikus, harus punya mental politik. Kalau tidak, yang ada dalam pikirannya hanya kekuasaan dan akan menjadi benalu negara,” pesan Soegija di akhir film itu, seakan menjadi perenungan bagi para pemimpin sekaligus rakyat Indonesia di masa sekarang.
Senin, 21 Mei 2012
Langganan:
Postingan (Atom)



